A. Pendidikan Jasmani
1. Pengertian Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama untuk mencapai tujuan. Bentuk-bentuk aktivitas fisik yang lazim digunakan oleh siswa akan, sesuai dengan muatan yang tercantum dalam kurikulum adalah bentuk gerak-gerak olahraga, sehingga pendidikan jasmani di sekolah akan memuat cabang-cabang olahraga dengan tujuan untuk menggali potensi siswa.
Pendidikan jasmani merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari sistem dan proses pendidikan dalam mengantarkan anak didik menjadi manusia yang utuh. Oleh karena itu pendidikan jasmani memiliki peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan Pendidikan Nasional.
Pengertian Pendidikan Jasmani menurut Menteri Negara dan Olahraga RI yang dikutip Thomas Riyanto (2009:12) sebagai berikut :
”Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan perkembangan watak”.
Aktivitas jasmani dalam pengertian ini dipaparkan sebagai kegiatan pelaku gerak untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan sosial. Aktivitas ini harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan pelaku. Melalui kegiatan keolahragaan diharapkan pelaku atau siswa akan tumbuh dan berkembang secara sehat, dan segar jasmaninya, serta dapat berkembang kepribadiannya agar lebih harmonis.
Dan menurut Husdarta (2009:2) menjelaskan mengenai Pengertian Pendidikan Jasmani, yaitu:
“Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik dan kesehatan untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya”.
Dari kedua pendapat diatas dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan yang menggunakan kegiatan jasmani sebagai alat untuk mendapatkan peningkatan pertumbuhan dan perkembangan jasmani yang selaras dan seimbang, pengetahuan serta keterampilan.
Menurut Haag, (1994) dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu bahwa penelaahannya menekankan pada pemaknaan aktivitas jasmani dalam berbagai dimensi yang ilmiah, termasuk: 1) aktivitas jasmani sebagai suatu perubahan posisi, status, atau postur, 2) aktivitas jasmani sebagai pengalaman internal, 3) aktivitas jasmani dalam suatu kelompok besar secara politis dan atau historis adalah penting sebagai tujuan umum.
American Alliance for Health, Physical Education, Recreation and Dance (dalam Sucipto, 2006) http://file.upi.edu menyebutkan unsur yang berkaitan dengan kualitas pendidikan jasmani adalah:
1. Seseorang yang terdidik pendidikan jasmaninya adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sehubungan dengan jasmaninya, dan bagaimana jasmani itu berfungsi.
2. Pendidikan jasmani merupakan jaminan bagi kesehatan.
3. Pendidikan jasmani dapat menyumbang kepada prestasi akademik.
4. Sebuah program pendidikan jasmani yang baik menyumbang kepada perkembangan konsep diri (self-concept).
5. Sebuah program pendidikan jasmani yang baik membantu seseorang untuk memperoleh keterampilan sosial (social skill).
Rusli Lutan dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu merumuskan mengenai kebijakan nasional dalam pengembangan pendidikan jasmani menyebutkan tujuh faktor penting yaitu:
1. Peningkatan alokasi waktu aktif berolahraga.
2. Penetapan standar minimal isi dan model kurikulum.
3. Peningkatan mutu PBM.
4. Penetapan standar minimal infrastruktur Olahraga dan perlengkapannya
5. Peningkatan standar kompetensi guru pendidikan jasmani.
6. Peningkatan sumber-sumber belajar.
7. Pelaksanaan sistem evaluasi dan monitoring.
Selanjutnya menurut (Snyder & Spreitzer, 1989) dalam (Sucipto, 2006), http://file.upi.edu secara sosiologis-teori, aktivitas jasmani dipandang sebagai fenomena sosial yang mempengaruhi keadaan budaya masyarakat setempat. Teori fungsional-sosiologis, misalnya, menekankan bagaimana aktivitas jasmani (termasauk gerak dan olahraga) berinterrelasi dengan pranata sosial lainnya, terutama dilhat dari kajian nilai, norma, status, dan peran fenomena aktivitas jasmani dalam fungsinya mempengaruhi keadaan masyarakat.
Lebih lanjut menurut Siedentop, (1991) dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu pengajaran pendidikan jasmani dicirikan oleh:
1. Waktu, kesempatan, dan isi pembelajaran. Siswa pada kelas pendidikan jasmani kurang mendapatkan kesempatan latihan, terutama latihan jasmani yang berhasil dilakukan siswa.
2. Peran dan pengharapan. Peran, keterlibatan, dan pengharapan guru tidak mencirikan suatu nilai yang tinggi (misal: menjadi peneliti yang ingin mengembangkan potensi siswa).
3. Manajemen kelas dan keterlibatan siswa. Guru pendidikan jasmani terlalu dominan mengatur kelas, dan para siswa banyak menunggu waktu giliran melakukan latihan, sehingga akhirnya rata-rata partisipasi keterlibatan siswa rendah.
4. Kebermaknaan dan keberhasilan melaksanakan tugas-gerak. Tugas-tugas latihan gerak terlampau sukar bagi siswa, atau sebaliknya terlampau mudah.
5. Jeda dan kesempatan. Konsistensi dalam keberhasilan siswa melakukan suatu latihan berkesinambungan dan konsisten.
6. Pengajaran aktif. Guru pendidikan jasmani cenderung terlalu ketat dalam mengimplikasikan isi kurikulum, tapi kurang membantu ketika siswa berlatih, dan sajian penjelasan tugas gerak terlalu memakan waktu.
7. Pengawasan aktif. Siswa berlatih kurang diawasi dan dibimbing guru dan siswa berganti latihan tugas gerak terlalu cepat sehingga para siswa kurang mendapatkan dampak nilai dari latihan yang dilakukan.
8. Akuntabilitas. Relevansi makna hasil dari suatu latihan kurang (belajar keterampilan, kebugaran, dan sebagainya kurang bermakna), tetapi sangat ketat pada kehadiran, cara berpakaian, dan perilaku menyimpang lainnya.
9. Tegas, antusias, dan hangat. Sangat sedikit guru yang peduli pada potensi para siswanya, dan berusaha mengembangkannya demi masa depan siswanya, antusiasme guru mendidik terbatas pada waktu dan pengabdian mereka.
Proses belajar-mengajar pendidikan jasmani dapat dipandang sebagai sistem ekologi yang terbentuk atas tiga tugas yang harus diciptakan guru. Menurut Siedentop (1991) dalam (Sucipto, 2006), http://file.upi.edu ketiga tugas yang membentuk sistem ekologi pengajaran adalah: sistem tugas terkait manajerial, sistem tugas terkait instruksional, dan sistem interaksi sosial-siswa. Interaksi dari ketiga sistem ini juga menentukan tingkat keberhasilan guru dalam mengantarkan para siswanya mencapai tujuan yang telah digariskan.
Tugas dapat diartikan sebagai seperangkat kerja untuk mencapai tujuan. Tugas dapat juga diartikan sebagai seperangkat pengajaran baik implisit maupun eksplisit terhadap satu situasi pengajaran yang diharapkan berhasil dilakukan. Tugas yang terkait manajerial berhubungan dengan pengorganisasian dan aspek perilaku dalam pendidikan jasmani, yaitu semua fungsi siswa dan guru yang perlu ditampilkan dalam satu periode waktu pengajaran. Sebagai contoh: perintah, bentuk empat kelompok tim bola voli dalam empat hitungan. Tugas terkait pengajaran berhubungan dengan aktivitas pokok bahasan atau materi pendidikan jasmani, atau perilaku belajar siswa yang diinginkan terjadi sebagai wujud partisipasi dalam aktivitas pengajaran. Sebagai contoh: bentuk pola berpasangan, kemudian lakukan pass-bawah selama mungkin. Dapatkan partisipasi penuh dari siswa, dan jika perlu agenda kegiatan belajar lebih dominan diputuskan oleh siswa. Tugas terkait sistem inteaksi sosial-siswa berhubungan dengan interaksi diantara para siswa dalam situasi pengajaran pendidikan jasmani. Guru tidak memperdulikan pengorganisasiaan siswa dan pokok bahasan, tetapi lebih cenderung memperhatikan pada pola interaksi yang terjalin diantara para siswa.
Pendidikan jasmani yang menuansakan tidak hanya belajar keterampilan ini untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan, tujuan khusus satuan pengajaran, dan tujuan pendidikan secara umum. Pengembangan pembelajaran dalam pendidikan jasmani dapat dilakukan dengan menempuh cara pembelajaran yang lebih menuansakan proses pedagogis beberapa faktor yang mempengaruhi pada pencapaian empat pilar pendidikan adalah: waktu aktif belajar, learning by doing, teaching aktif, fasilitas belajar, dan metode pengajaran.
Pengembangan pendidikan jasmani dan olahraga harus dimaknai sebagai upaya peningkatan kualitas jasmani dan wujud pendidikan nilai kepada para peserta didiknya, sehingga manusia mampu menjalani kehidupannya penuh dengan makna baik dalam hubungan dengan pengabdiannya kepada yang maha kuasa atau memberikan banyak manfaat bagi kehidupan orang lain. Oleh karena itu, kualitas jasmani dan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya menjadi dampak pelengkap dari ketatalaksanaan pendidikan jasmani di sekolah. Kualitas jasmani yang memadai akan dapat mengantarkan manusia yang bersangkutan pada kualitas hidup yang diinginkannya. Jasmani adalah potensi fitrah manusia yang perlu senantiasa dipelihara dan dikembangkan kemampuannya. Aktivitas jasmani dapat bermakna “ciri hidup” yang dapat menyebabkan manusia memiliki “gaya hidup aktif”, sehingga pada gilirannya akan mengantarkan manusia itu sampai pada tingkat “produktivitas kerja” yang efektif.
Pandangan teori pendidikan, ternyata pendidikan jasmani dapat diarahkan untuk “mendidik” manusia, yang tidak hanya untuk pengembangan psikomotor, tetapi juga dapat diarahkan untuk mengembangan kemampuan kognitif, sosial-emosional dan afektif para siswa. Siswa dapat terbina kemampuan pengetahuan dan interpretasi nalarnya melalui pengajaran aktivitas jasmani yang dilakukan. Siswa memiliki pengetahuan tentang kesehatan, peraturan permainan, keuntungan hidup aktif, interpretasi situasi permainan, identifikasi kekuatan lawan, pemahaman hakekat aktivitas jasmani dan olahraga, sampai pada kemampuan evaluasi hasil dari suatu aktivitas jasmani yang ditampilkannya. Hal lain yang terkait pendidikan juga bahwa siswa akan lebih baik dalam kemampuan sosial-emosional sebagai akibat adanya interaksi dengan teman sejawatnya. Interaksi sosial yang terbentuk melalui kemampuan berafiliasi dengan kelompok, identifikasi kelompok, terbentuknya sikap dan perilaku kerjasama melalui gerak yang membutuhkan sinergistik kelompok, dan toleran terhadap perbedaan kemampuan setiap anggota dalam kelompok, diasumsikan dapat menyebabkan terbentuknya pengembangan domain nilai sosial-emosional dan afektif para siswa.
2. Tujuan Pendidikan Jasmani
Sama halnya dengan pengertian pendidikan jasmani, tujuan pendidikanjasmani seringkali dituturkan dalam redaksi yang beragam, namun keragaman penuturan tujuan pendidikan jasmani tersebut pada dasarnya bermuara pada pengertian pendidikan jasmani itu sendiri, sudah diuraikan di atas bahwa pada dasarnya pendidikan jasmani proses pendidikan melalui aktivitas jasmani dan sekaligus merupakan proses pendidikan untuk meningkatkan kemampuan jasmani.
Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara menyeluruh. Artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya pada aspek pendidikan jasmani saja, akan tetapi juga aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual.
Menurut Adang Suherman (2003:23) secara umum tujuan pendidikan jasmani dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu:
1. Perkembangan Fisik
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas-aktivitas yang melibatkan kekuatan-kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh seseorang.
2. Perkembangan Gerak
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan gerak secara efektif, efisien, halus, indah, sempurna.
3. Perkembangan Mental
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan berfikir dan menginterpretasikan keseluruhan pengetahuan tentang pendidikan jasmani ke dalam lingkungannya sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya pengetahuan, sikap dan tanggung jawab siswa.
4. Perkembangan Sosial
Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat.
Tujuan Pendidikan Jasmani menurut Barrow dalam Syarifudin (1993) yang dikutip Thomas Riyanto (2009:15) adalah sebagai berikut :
Tujuan ideal pendidikan jasmani adalah perkembangan optimal dari individu yang utuh dan berkemampuan menyesuaikan diri secara jasmaniah, sosial dan mental melalui pelajaran yang terpimpin dan partisipasi dalam olahraga yang dipilih, senam irama dan senam yang dilaksanakan sesuai dengan standar sosial dan kesehatan.
Sedang Feiring William seorang pakar pendidikan terkemuka di Amerika menyatakan dalam Abdullah dan Munadji (1884) yang dikutip Thomas Riyanto (2009:15) menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan Jasmani adalah :
“Untuk memberi pimpinan yang terampil dan fasilitas yang memadai yang akan memberikan kemungkinan bagi individu atau kelompok untuk berbuat dalam situasi yang sehat bagi jasmani, yang merangsang dan memberi kepuasan bagi mental dan secara sosial menyenangkan”.
Dan selanjutnya Bucher dkk. (1983:45) yang dikutip Thomas Riyanto (2009:16) merumuskan tujuan dari pendidikan jasmani, yaitu:
a. Perkembangan kesehatan, jasmani atau organ-organ tubuh.
b. Perkembangan mental-emosional.
c. Perkembangan neuromuskular.
d. Perkembangan sosial.
e. Perkembangan intelektual.
Sedang tujuan pendidikan jasmani menurut Departemen Pendidikan Nasional (http://www.pembelajar.com/Dok.Final-Penjas) adalah sebagai berikut:
a. Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam pendidikan jasmani.
b. Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis dan agama.
c. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran Pendidikan Jasmani.
d. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani.
e. Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan teknik serta strategi berbagai permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas (Outdoor education).
f. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani.
g. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.
h. Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat.
i. Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif.
Dari uraian tersebut diatas jelas pendidikan jasmani memiliki peran yang sangat penting bahwa tujuan pendidikan jasmani memiliki nilai-nilai yang positif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang pada hakekatnya untuk membina dan meningkatkan kesegaran jasmani, meningkatkan keterampilan serta meningkatkan perkembangan mental dan emosional.
3. Manfaat Pendidikan Jasmani
Banyak manfaat yang dapat diraih melalui pendidikan jasmani, seperti dijelaskan oleh para ahli sebagai berikut; Adams (1991) dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu menjelaskan manfaat pendidikan jasmani adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir, kepekaan rasa, keterampilan sosial, dan kepercayaan diri dan citra diri. Lebih rinci lagi manfaat pendidikan jasmani Wall dan Murray (1994) dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu menjelaskan;
a. Memperoleh manfaat dari keterampilan fisik,
b. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan fisik,
c. Memelihara atau meningkatkan kebugaran jasmani,
d. Memperoleh pengetahuan dan pemahaman gerak,
e. Pengetahuan penerapan gerak dalam situasi yang bervariasi, berkembangnya perilaku hidup panjang yang positif terhadap aktivitas fisik,
f. Peningkatan kepercayaan diri dan harga diri,
g. Memperoleh keterampilan sosial yang dinginkan,
h. meningkatkan kemampuan kreativitasnya, dan
i. Berkembangnya apresiasi estetika untuk gerak.
Hal serupa, Rusli Lutan, dkk. (2004) dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu merinci kandungan dari pendidikan jasmani adalah sebagai berikut;
a. Seseorang yang terdidik pendidikan jasmaninya adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sehubungan dengan jasmaninya, dan bagaimana jasmani itu berfungsi,
b. Pendidikan jasmani merupakan jaminan bagi kesehatan,
c. Pendidikan jasmani dapat menyumbangkan kepada prestasi akademik,
d. Sebuah program pendidikan jasmani yang baik menyumbang kepada perkem-bangan konsep diri, dan
e. Sebuah program pendidikan jasmani yang baik membantu seseorang memperoleh keterampilan social.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas, maka secara umum dapat digambarkan bahwa pendidikan jasmani bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam pengembangan pemahaman, sikap, keterampilan, dan sosial.
Dalam pembelajaran pendidikan jasmani, masih banyak guru penjas kurang memperhatikan penekanan tujuan pengajaran permainan dan skill. Ada kalanya guru dalam mengajarkan bentuk-bentuk permainan, malah penekanannya difokuskan pada pembelajaran bagaimana siswa menampilkan skill dalam permainan. Sebaliknya, dalam mengajarkan skill guru memfokuskan pembelajaran pada bentuk-bentuk permainan. Memang pada kenyataannya, kita sadari bahwa rendahnya kualitas permainan disebabkan oleh rendahnya kemampuan skill, sehingga ada beberapa alternatif pada guru sebagai berikut:
1. Meneruskan permainan untuk beberapa lama, sehingga siswa dapat memahami gagasan/makna dari permainan yang dilakukannya.
2. Guru kembali pada tahapan belajar yang lebih rendah dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memadukan keterampilan tanpa adanya tekanan untuk menguasai strategi.
3. Guru merubah jenis keterampilan pada level yang lebih simpel, lebih dikuasai siswa, sehingga dapat berkonsentrasi terhadap strategi bermain.
Keterampilan bermain lebih kompleks dari pada keterampilan tertutup atau keterampilan terbuka. Pada keterampilan bermain, kita dituntut mampu menggunakan keterampilan, mengkombinasikan skill dengan orang lain dalam menerapkan strategi permainan pada kondisi yang berbeda-beda. Untuk memodifikasi pembelajaran permainan dan olahraga, maka guru harus paham terhadap tahapan belajar permainan. Pada awalnya tahapan belajar permainan melibatkan pembelajaran yang penekanannya pada penguasaan skill. Selanjutnya aktivitas pembelajran diarahkan pada kompleksitas dan tingkat kesulitan permainan.
Beberapa pertimbangan dalam penggunaan tahapan bermain, antara lain:
1. Tidak melompati tahapan. Walaupun secara fisik dan kemampuan siswa mampu melakukan pada tahap berikutnya, namun hendaknya siswa memulai tahapan demi tahapan. Hal ini dimaksudkan supaya siswa memahami konsep bermain diriap tahapan.
2. Tahapan yang terlupakan. Tahapan yang sering terlupakan adalah tahap dua dan tiga. Indikasinya permainan tidak berjalan lancar dan skill nampak terkotak-kotak tidak saling berhubungan. Hal tersebut tidak akan terjadi jika guru memahami kebutuhan permainan secara bertahap sesuai dengan kemampuan siswa.
3. Menentukan skill dalam permainan. Guru menetapkan bagaimana skill digunakan dan strategi apa yang diterapkan dalam permainan itu. Guru memberikan tahapan aktivitas belajar untuk meningkatkan skill dan strategi bermain melalui manipulasi kompleksitas permainan dari kondisi sederhana sampai pada kondisi permainan yang sebenarnya.
Lebih rinci, Rink (1999) dalam (Sucipto, 2006) http://file.upi.edu menjelaskan tentang pendekatan teknis adalah sebagai berikut;
1. Penguasaan satu teknik dasar
2. Menggabungkan dua atau teknik dasar
3. Anak dilibatkan dlm permainan sederhana
4. Permainan sebenarnya
B. Konsep pengembangan Pendidikan Jasmani
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan jasmani keempat faktor ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu : tujuan, materi, metoda, dan evaluasi. Di antara beberapa faktor untuk mencapai pengajaran pendidikan jasmani yang berhasil adalah perumusan tujuan. Pentingnya kedudukan tujuan untuk menentukan materi yang akan dilakukan oleh para siswa. Salah satu prinsip penting dalam pendidikan jasmani adalah partisipasi siswa secara penuh dan merata. Oleh karena itu, guru pendidikan jasmani harus memperhatikan kepentingan setiap siswa. Siswa didorong untuk mendapatkan pengalaman belajar adalah berupa pengantar yang merujuk pada komponen antisipasi. Dalam membuka pelajaran guru mempersiapkan siswa dengan mengembangkan minat mereka pada pelajaran tersebut. Dalam mempersiapkan siswa guru menyampaikan apa yang akan dipelajari dan hubungannya dengan pelajaran sebelumnya dan aktivitas saat ini atau yang akan datang.
Sebenarnya pendidikan jasmani iitu memiliki kekayaan yang sangat besar dalam pembelajaran sebagaimana Lutan (1997:7) paparkan yang dikutip dari Rijlembaga pendidikan dalam Endang Sunarya (2007:47) sebagai berikut, ”Tujuan pendidikan jasmani, yaitu: (a) pembentukan gerak, (b) pembentukan prestasi, (c) pembentukan sosial, dan (d) pertumbuhan”. Rumusan ini sudah di gariskan didalam kurikulum pendidikan keolahragaan dan GBHN, yaitu :
1. Tercapainya pertumbuhan dan perkembangan jasmani khususnya tinggi dan berat badan secara harmonis.
- Terbentuknya sikap dan prilaku disiplin, kejujuran, kerjasama, mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku.
- Menyenangi aktivitas jasmani yang dapat dipakai untuk mengisi waktu luang serta kabiasaan hidup sehat.
- Mempunyai kemampuan untuk menjelaskant tentang manfaat pendidikan jasmani, keterampilan gerak yang benar dan efisien.
- Meningkatkan kesegaran jasmanidan kesehatan, serta daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Dengan demikian, tujuan dari pendidikan jasmani adalah untuk mengembangkan kondisi fisik, mental, sosial, moral, spiritual, dan intelektual supaya pengguna lebih mandiri yang sesuai dengan keadaan dirinya. Oleh karena itu untuk mendasari semua tujuan pembelajaran tersebut perlu adanya landasan yang kokoh dalam pendidikan jasmani.
C. Esensi Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan interaksi berkelanjutan antara guru dan prilaku peserta didik (Mosston dan Asworth, 1994) dalam Endang Sunarya (2007:56). Salah satu prinsip penting dalam pendidikan jasmani adalah partisipasi peserta didik secara penuh dan merata. Oleh karena itu guru pendidikan jasmani harus memperhatikan kepentingan setiap peserta didik.
Persiapan peserta didik untuk mendapatkan pengalaman belajar adalah berupa pengantar yang merujuk pada komponen antisipasi. Dalam membuka pelajaran guru mempersiapkan peserta didik untuk mengembangkan minat mereka pada pelajaran tersebut. Dalam mempersiapkan peserta didik guru menyampaikan apa yang akan dipelajari dan hubungannya dengan pelajaran sebelumnya dan aktivitas saat ini atau yang akan datang.
Hal ini penting sebagai tujuan untuk selalu melibatkan peserta didik agar secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru pendidikan jasmani harus dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik peserta didik. Memodifikasi sarana merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani, agar siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang.
Lutan (1998) dalam Endang Sunarya (2007:57) menyatakan modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar: (1) siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran, (2) meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi, dan (3) siswa dapat melakukan pola gerak secara benar. Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada didalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor anak, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani dapat dilakukan secara intensif.
Keterbatasan fasilitas pembelajaran penjas yang ada di sekolah menjadi kendala serius dalam pelaksanaan pembelajaran penjas. Modifikasi digunakan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Menurut Ngasmain dan Soepartono (1997) dalam Endang Sunarya (2007:57) alasan utama perlunya modifikasi adalah: (1) anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, kematangan fisik dan mental anak belum selengkap orang dewasa, (2) pendekatan pembelajaran pendidikan jasmani selama ini kurang efektif, hanya bersifat lateral dan monoton, dan (3) fasilitas pembelajaran pendidikan jasmani yang ada sekarang, hampir semuanya didesain untuk orang dewasa.
Dalam PBM akan terjadi suatu transfer dari guru kepada peserta didik atau sebaliknya. Ada tiga aspek yang terkait dengan transfer belajar, yaitu :
a. Peranan transfer dalam kondisi belajar skill seperti mempertimbangkan drill dalam sepak bola atau memperhatikan hasil latihan melakukan tembakan bebas dalam permainan bola basket dengan melakukan melakukan tembakan bebas pada saat bertanding.
b. Bagaimana transfer itu di ukur? transfer ini dapat diestimasi peningkatan atau penurunan keterampilan sebagai hasil dari latihan atau pengalaman dan transfer ini pula dapat bersifat positif atau negatif tergantung pada tugasnya.
c. Transfer sebagai sebuah kriteria untuk belajar seperti tes retensi. Dalam hal ini ada dua kriteria transfer yaitu: (1) near transfer artinya tujuan belajar yang relatif sama dengan tugas latihan dan (2) far transfer artinya tujuan belajar berbeda dengan kondisi latihan yang sesungguhnya.
Kesiapan belajar merupakan kondisi yang harus mendapat perhatian pertama sebelum kegiatan belajar. Tanpa kesiapan peserta didik untuk belajar mustahil terjadi proses belajar mengajar disekolah. Untuk mengetahui kesiapan peserta didik sebelum PBM itu dimulai, maka guru terlebih dahulu harus melakukan langkah-langkah seperti memberikan perhatian, memberikan motivasi, dan memeriksa perkembangan kesiapan.
Perhatian ini sangat perlu manakala peserta didik akan melakukan sejenis pengamatan. Peserta didik harus memperhatikan peragaan dari guru, melihat gambar, dan bukan bercakap-cakap dengan teman atau mengganggu teman. Guru harus melakukan berbagai cara agar peserta didik dapat memberikan perhatiannya pada saat proses belajar dan mengajar tengah berlangsung. Untuk dapat mengembagkan perhatian peserta didik bukan sesuatu yang mudah namun diperlukan kiat-kiat khusus, seperti menyajikan sesuatu yang belum peserta didik kenali. Sehingga merangsang peserta didik untuk mencari tahu. Selain itu juga dalam menyampaikan pelajaran guru hendaknya memulai dari yang mudah hingga sukar.
Motivasi merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Setidaknya para peserta didik harus memiliki motivasi untuk untuk belajar di sekolah. Tanpa motivasi sukar bagi peserta didik untuk berkembang dalam belajarnya. Guru sangat berperan dalam menumbuh kembangkan motivasi pada peserts didik. Meskipun munculnya motivasi itu dengan sedikit memberi paksaan kepada mereka. Lambat laun akan muncul kesadarannya untuk belajar menurut keinginannya sendiri. Motivasi terbagi kedalam dua bagian, yaitu : motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Untuk meningkatkan motivasi instrinsik sangat diperlukan motivasi kuat dari luar dirinya. Peserta didik harus diberikan penghargaan berupa pujian, angka yang baik, rasa keberhasilan, dan sebagainya sehingga peserta didik lebih tertarik oleh pelajaran. Kesuksesan yang diraih dalam interaksinya dengan lingkungan belajar dapat menimbulkan rasa puas. Kondisi ini merupakan sumber motivasi. Apabila terus menerus muncul pada diri peserta didik, maka ia akan sanggup untuk belajar sepanjang hidupnya.
Dapat atau tidaknya peserta didik terlibat dalam proses belajar akan sangat ditentukan oleh kesiapannya untuk belajar. Teori Piaget membedakan perkembangan kesiapan peserta didik dilihat dari aspek kognitif. Perbedaan dalam perkembangan kesiapan peserta didik di sekolah disebabkan oleh perbedaan dalam kemampuan intelektual dan keterampilan motorik yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu, guru harus mempertimbangkan secara sungguh ketiga hal pokok tersebut sebagai upaya meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik.
lamun mere referensi teh nu bener atuh uy jeng daftar pustakana sakalian...
BalasHapusBagaimana seorang guru penjas memperlakukan siswa sebagai sebuah kesatuan utuh?
BalasHapusBagaimana seorang guru penjas memperlakukan siswa sebagai sebuah kesatuan utuh?
BalasHapus